BEKASI - Ironis, lulusan SMA di Kabupaten Bekasi yang jumlahnya mencapai rata-rata 11 ribu orang tiap tahunnya, hanya 20 persen saja yang terserap di dunia industri. Khususnya kawasan industri yang ada di wilayah Bekasi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kabupaten Bekasi Sutomo mengatakan, lulusan di Kabupaten Bekasi yang banyak tidak terserap di dunia industri terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya karena ada klasifikasi kebutuhan berdasarkan skill yang diinginkan perusahaan.

"Kita akui rata-ratanya hanya 20 persen yang terserap, sehingga memang minim penyerapan tenaga kerja baru yang asli Bekasi," ungkap Sutomo, di Bekasi, Selasa (14/5/2013).

Klasifikasi kebutuhan di tiap perusahaan, jelas Sutomo, karena perkembangan zaman yang semakin maju. Sehingga, mau tidak mau pihak sekolah, khususnya setingkat SMA harus mengikuti perkembangan tersebut dengan menjalin kemitraan dengan perusahaan.

"Saat ini memang sudah ada SMA atau SMK yang menjalin kemitraan dengan perusahaan, tapi kan jumlah SMA dan SMK baik yang swasta dan negeri jumlahnya banyak, apakah itu semua sudah menjalin kemitraan dengan perusahaan?" katanya.

Ditambahkan Sutomo, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan harus peka dan peduli terhadap masa depan lulusan baru. Karena selama ini, serbuan urbanisasi yang notabene juga lulusan baru kerap mengancam setiap tahunnya.

 "Jangan sampai warga Bekasi termarjinalkan, harus ada tindaklanjutnya. Kalau satu perusahaan membutuhkan lima karyawan baru maka dikalikan dengan 3.500 perusahaan yang ada di Kabupaten Bekasi, jadi peluang lulusan baru dari Bekasi masih sangat luas," ungkapnya. (ade)

Artikel Terkait

 
Copyright © 2010. WARTA PERSADA.COM - All Rights Reserved